Menyajikan Lisan Puisi
1. Identitas
Nama Guru : Sarah Dhiba Rangkuti, S.Pd., Gr.
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Hari, Tanggal : Selasa, 20 Oktober 2026
Fase/Kelas : E/ X.E.1 dan 3
Materi : Teks Puisi
2. Capaian Pembelajaran:
Pada akhir fase E ini murid mempresentasikan gagasan, pandangan, arahan, dan/atau pesan berbagai tipe teks berbentuk monolog, dialog, dan/atau gelar wicara secara sistematis, kritis, dan/atau kreatif
3. Tujuan Pembelajaran
Murid mampu menyajikan lisan puisi (deklamasi, pembacaan puitis, atau musikalisasi puisi) hasil karya sendiri maupun penyair terkenal secara mandiri.
- Mindful Learning (Berkesadaran): Siswa diajak membaca senyap untuk menangkap ruh atau atmosfer emosi puisi (apakah sedih, marah, tegang, atau damai). Siswa dilatih menyadari setiap tarikan napas (teknik napas perut) untuk mengatur jeda (caesura) secara sadar. Melatih siswa peka terhadap gestur dan ekspresi wajah. Gerakan tangan atau sorot mata tidak boleh dipaksakan (akting yang berlebihan).
- Joyful Learning (Menggembirakan): Mengubah suasana kelas yang kaku menjadi ruang pertunjukan yang hangat (misalnya lampu agak redup, layout melingkar, atau lesehan). Mengizinkan siswa menggunakan backsound (ilustrasi musik instrumental) pilihan mereka sendiri. Mengadopsi budaya poetry slam di mana penonton memberikan apresiasi dengan memetikkan jari secara halus saat ada larik puisi yang dirasa sangat menyentuh. Ini menciptakan dukungan positif instan tanpa memecah konsentrasi penampil.
- Meaningful Learning (Bermakna): Siswa diajak menganalisis latar belakang penulisan puisi. Jika menggunakan karya sendiri, mereka menggali keresahan pribadi. Pembelajaran menjadi bermakna karena siswa diberikan kebebasan memilih moda presentasi lisan yang paling sesuai dengan kecerdasan dan minat mereka.
QS. Ibrahim ayat 24
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.”
Kaitan dengan materi:
Puisi yang ditulis oleh murid dari kejujuran emosinya adalah sebuah Kalimah Thayyibah (kalimat yang baik dan indah). Ayat ini mengajarkan bahwa kata-kata yang dirangkai dengan baik, indah, dan bermakna memiliki kekuatan yang kokoh untuk menyentuh hati manusia lain (penonton/publik), laksana pohon yang akarnya menghujam dalam dan buahnya bermanfaat bagi sekitar.
Berikut merupakan materi Bahasa Indonesia yang akan dibahas pada hari ini:
.png)
.png)
.png)
.png)

Komentar
Posting Komentar